Ramadhan bukan hanya
bulan ibadah. Ia adalah madrasah pembentukan jiwa. Di dalamnya ada lapar yang
mendidik sabar, haus yang melatih ikhlas, dan malam yang mengajarkan
ketundukan.
Allah ﷻ berfirman: “Wahai
orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana
diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.”
(QS. Al-Baqarah: 183)
Tujuan puasa adalah
takwa. Dan jika kita ingin memahami makna takwa yang sesungguhnya, lihatlah
bagaimana para sahabat menjalani Ramadhan.
🌙 Ramadhan dan Derma Tanpa Batas:
Kisah Utsman bin Affan
Pada suatu masa terjadi
paceklik hebat di Madinah. Bahan makanan sulit didapat, harga melonjak,
masyarakat kesulitan.
Saat itu datanglah
kafilah dagang milik Utsman bin Affan dari Syam, membawa seribu unta penuh
gandum dan bahan makanan. Para pedagang mendatanginya dan menawar dengan
keuntungan besar. Mereka berkata, “Kami beri keuntungan dua kali lipat.”
Utsman menjawab,“Ada yang
menawar lebih dari itu.”
Tawaran naik menjadi lima
kali lipat. Utsman tetap berkata, “Ada yang lebih dari itu.”
Para pedagang heran,
“Siapa yang menawar lebih dari kami di Madinah ini?”
Utsman menjawab dengan
tenang, “Allah menawar sepuluh kali lipat, bahkan lebih.”
Lalu seluruh kafilah itu
beliau sedekahkan untuk kaum muslimin.
Inilah ruh Ramadhan: meyakini
janji Allah lebih pasti daripada keuntungan dunia.
🌙 Lapar yang Menguatkan Jiwa: Kisah
Abu Bakar Ash-Shiddiq
Suatu hari Rasulullah ﷺ
bertanya kepada para sahabat: “Siapa di antara kalian yang hari ini berpuasa?”
Abu Bakar Ash-Shiddiq
menjawab, “Saya.”
“Siapa yang hari ini
mengantar jenazah?”
“Saya.”
“Siapa yang memberi makan
orang miskin?”
“Saya.”
“Siapa yang menjenguk
orang sakit?”
“Saya.”
Rasulullah ﷺ bersabda, “Tidaklah
semua itu terkumpul pada seseorang kecuali ia akan masuk surga.”
Ramadhan bukan hanya
tentang menahan diri, tetapi tentang memperbanyak amal dalam satu waktu. Abu
Bakar menunjukkan bahwa ibadah tidak saling menggugurkan, justru saling
menguatkan.
🌙 Ramadhan dan Kesabaran di Medan
Ujian
Perang Badar terjadi pada
bulan Ramadhan. Dalam kondisi berpuasa dan jumlah pasukan yang jauh lebih
sedikit, kaum muslimin tetap teguh. Di antara mereka ada Ali bin Abi Talib,
yang masih sangat muda, namun keberaniannya luar biasa.
Ramadhan tidak menjadikan
mereka lemah. Justru Ramadhan menguatkan ruh dan keberanian mereka. Hari ini
mungkin kita tidak berperang di medan laga, tetapi kita berperang melawan hawa
nafsu, kemalasan, dan ego. Dan Ramadhan adalah momentum kemenangan atas diri
sendiri.
🌿 Refleksi untuk Kita
Bandingkan dengan diri
kita hari ini. Ramadhan sering berlalu dalam rutinitas: sahur, kerja, berbuka,
tarawih, tidur. Tanpa perubahan mendasar pada hati.
Padahal para sahabat
menjadikan Ramadhan sebagai musim panen amal:
- Memperbanyak sedekah
- Memperbanyak tilawah
- Memperbanyak doa
- Memperbanyak amal sosial
Ramadhan seharusnya
membuat kita bertanya:
Sudahkah puasa ini
melembutkan hati kita?
Sudahkah ia menjadikan
kita lebih peduli pada yatim dan dhuafa?
Karena puasa yang benar
akan melahirkan kepedulian. Jangan biarkan Ramadhan hanya menjadi ibadah fisik.
Jadikan ia perjalanan hati — seperti perjalanan para sahabat. Semoga Allah
menjadikan Ramadhan kita bukan sekadar ritual, tetapi perubahan menuju
ketakwaan sejati.


0 Komentar