Ramadhan bukan hanya
ibadah pribadi. Ia adalah pendidikan keluarga.
Di rumah-rumah para
sahabat, Ramadhan terasa berbeda. Bukan karena kemewahan hidangan, tetapi
karena kuatnya iman dan kebersamaan dalam ibadah.
🌙 Rumah yang Dipenuhi Al-Qur’an
Salah satu sahabat yang
sangat lekat dengan Al-Qur’an adalah Abdullah bin Mas'ud. Bacaan beliau begitu
menyentuh hingga Rasulullah ï·º pernah meminta beliau membacakan Al-Qur’an.
Ketika sampai pada ayat:
“Maka bagaimanakah
(keadaan orang kafir nanti), apabila Kami datangkan seorang saksi dari
tiap-tiap umat dan Kami datangkan engkau (Muhammad) sebagai saksi atas mereka
itu.”
(QS. An-Nisa: 41)
Rasulullah ï·º menangis. Bayangkan
suasana rumah yang dipenuhi lantunan ayat dan tangisan karena takut kepada
Allah.
Ramadhan adalah saat
terbaik menghidupkan rumah dengan Al-Qur’an, bukan hanya suara televisi atau
gawai.
🌙 Kedermawanan Keluarga Ali dan
Fatimah
Diriwayatkan bahwa Ali
bin Abi Talib dan istrinya, Fatimah az-Zahra, pernah bernazar berpuasa tiga
hari. Setiap kali waktu berbuka tiba, datang orang miskin, anak yatim, dan
tawanan meminta makanan. Mereka memberikan makanan itu dan berbuka hanya dengan
air.
Allah mengabadikan kisah
ini dalam QS. Al-Insan: 8–9:
“Dan mereka memberikan
makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan.
(Mereka berkata), ‘Sesungguhnya kami memberi makan kepada kalian hanyalah untuk
mengharap wajah Allah, kami tidak menghendaki balasan dan tidak pula ucapan
terima kasih.’”
Inilah pendidikan
keluarga yang luar biasa: anak-anak tumbuh melihat pengorbanan, bukan
kemewahan.
🌙 Ramadhan dan Generasi Bertakwa
Para sahabat tidak hanya
beribadah untuk diri mereka sendiri. Mereka memikirkan generasi setelahnya. Umar
bin Khattab dikenal sangat tegas, tetapi di malam hari beliau menangis dalam
doa karena takut tidak mampu mempertanggungjawabkan kepemimpinannya.
Ramadhan melatih rasa
tanggung jawab — bukan hanya kepada diri sendiri, tetapi kepada keluarga dan
masyarakat.
🌿 Refleksi untuk Orang Tua Hari Ini
Ramadhan adalah
kesempatan emas:
Mengajak anak berbuka
dengan kesederhanaan
Mengajarkan sedekah sejak
dini
Menghidupkan shalat
berjamaah di rumah
Membiasakan doa bersama
Anak mungkin lupa hadiah
yang kita belikan, tetapi mereka tidak akan lupa suasana Ramadhan yang penuh
kehangatan dan ibadah.
Ramadhan adalah madrasah
jiwa. Ia membentuk pribadi bertakwa dan keluarga yang peduli.
Jika para sahabat mampu
menjadikan Ramadhan sebagai momentum perubahan besar, maka kita pun mampu —
jika sungguh-sungguh. Semoga Ramadhan kali ini melahirkan keluarga yang lebih
dekat kepada Allah, lebih lembut hatinya, dan lebih luas kepeduliannya terhadap
sesama.
.jpeg)
0 Komentar