Isra Mi’raj adalah perjalanan agung Rasulullah ﷺ yang sering kita kenang sebagai peristiwa spiritual. Namun sejatinya, Isra Mi’raj bukan hanya tentang naik ke langit, melainkan tentang turun kembali ke bumi dengan membawa tanggung jawab sosial.
Di era modern—bahkan di tengah pesatnya kecerdasan buatan
(AI)—manusia mengalami kemajuan luar biasa. Teknologi membuat segalanya lebih
cepat, lebih mudah, dan lebih efisien. Namun di sisi lain, ketimpangan sosial
masih nyata: yatim dan dhuafa tetap bergulat dengan keterbatasan, bahkan sering
tertinggal dalam arus kemajuan.
Isra Mi’raj mengingatkan kita: iman tidak boleh berhenti di
langit, ia harus menyentuh bumi.
Shalat yang Mencegah Ketidakpedulian
Perintah shalat yang dibawa Rasulullah ﷺ dari peristiwa Isra
Mi’raj bukan hanya ritual individu. Shalat sejati seharusnya melahirkan
kepekaan sosial. Allah berfirman bahwa shalat mencegah perbuatan keji dan
mungkar—termasuk mungkar berupa acuh tak acuh terhadap penderitaan sesama.
Di era AI, ketika donasi bisa dilakukan hanya dengan satu
sentuhan layar, tidak ada lagi alasan untuk menunda kebaikan. Justru teknologi
seharusnya menjadi jalan cepat untuk berbagi, bukan alasan untuk semakin sibuk
dengan diri sendiri.
Hikmah Mi’raj: Semakin Tinggi Iman, Semakin Luas Kepedulian
Rasulullah ﷺ tidak kembali dari Mi’raj dengan cerita
kehebatan diri, melainkan dengan amanah untuk membina umat. Ini mengajarkan
bahwa kedekatan kepada Allah harus berbanding lurus dengan kepedulian kepada
manusia, terutama mereka yang lemah: yatim dan dhuafa.
Di tengah dunia yang mengagungkan kecerdasan buatan, Islam
mengajarkan pentingnya kecerdasan hati. AI bisa menghitung angka donasi, tapi
hanya manusia beriman yang mampu menghadirkan keikhlasan dan kasih sayang di
baliknya.
Dari Teknologi ke Tanggung Jawab Sosial
Hari ini, teknologi memudahkan kita untuk:
- Berdonasi secara digital
- Menyebarkan kampanye kebaikan
- Mengawal transparansi bantuan sosial
Namun semua itu akan sia-sia jika tidak disertai niat dan
kesadaran bahwa yatim dan dhuafa bukan objek belas kasihan, melainkan amanah
umat.
Isra Mi’raj mengajak kita untuk tidak sekadar kagum pada
langit, tapi juga hadir di bumi sebagai penolong.
Iman yang Bergerak, Bukan Diam
Peringatan Isra Mi’raj 1447 H ini menjadi pengingat bahwa
iman bukan hanya soal hubungan vertikal dengan Allah, tetapi juga hubungan
horizontal dengan sesama manusia. Shalat yang kita dirikan hari ini semoga
menjelma menjadi uluran tangan untuk yatim dan dhuafa.
Di era AI, ketika segalanya bisa dipercepat, jangan sampai
kebaikan justru tertinggal.
Mari jadikan Isra Mi’raj sebagai momentum untuk:
- Memperbaiki shalat
- Menguatkan empati
- Menggerakkan donasi dan kepedulian sosial
Karena sejatinya, perjalanan spiritual terbaik adalah yang
berujung pada kebermanfaatan bagi sesama.
Info Kolaborasi & Donasi : 0852-2649-6460 (Minja)



0 Komentar