Maulid Nabi Muhammad SAW bukan sekadar momentum untuk mengenang kelahiran manusia mulia yang membawa risalah Islam. Lebih dari itu, Maulid adalah kesempatan untuk kembali bertanya kepada diri sendiri: sejauh mana kita telah menghadirkan akhlak Rasulullah dalam kehidupan kita?
Pada tahun 2026, Maulid Nabi
Muhammad SAW 1448 H diperingati pada 25 Agustus 2026, bertepatan dengan 12
Rabiul Awal 1448 H. Di tengah kehidupan masyarakat yang semakin kompleks,
peringatan ini menjadi ruang untuk kembali menghidupkan nilai-nilai yang diajarkan
Rasulullah: kasih sayang, kepedulian, kejujuran, keadilan, dan keberpihakan
kepada mereka yang membutuhkan.
Rasulullah: Teladan dalam
Menebarkan Kasih Sayang
Allah SWT berfirman:
«وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً
لِّلْعَالَمِينَ»
“Dan Kami tidak mengutus
engkau (Muhammad), melainkan untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam.”
(QS. Al-Anbiya: 107)
Ayat tersebut menggambarkan
salah satu misi besar Rasulullah SAW: menghadirkan rahmat bagi seluruh alam.
Rahmat bukan hanya tentang
kata-kata lembut. Rahmat juga hadir ketika seseorang memilih untuk menolong
daripada mengabaikan, mendengarkan daripada menghakimi, melindungi daripada
menyakiti, dan memberikan kesempatan kepada seseorang untuk bangkit ketika ia
sedang berada dalam kesulitan.
Rasulullah SAW memberikan
teladan bahwa kemuliaan seseorang tidak hanya terlihat dari ibadah personalnya,
tetapi juga dari bagaimana ia memperlakukan manusia dan makhluk di sekitarnya.
Karena itu, mencintai
Rasulullah seharusnya tidak berhenti pada memperbanyak shalawat dan
menyelenggarakan peringatan Maulid. Cinta kepada Rasulullah perlu menemukan
bentuknya dalam kehidupan sehari-hari.
Ketika kita membantu seorang
anak mendapatkan haknya untuk belajar, di sana ada semangat keteladanan
Rasulullah. Ketika kita mendampingi perempuan yang sedang menghadapi persoalan
hidup, di sana ada nilai kepedulian yang diajarkan Islam. Ketika kita memilih
untuk tidak mempermalukan seseorang yang sedang jatuh, melainkan membantunya
bangkit, di sana ada rahmat yang kita coba hidupkan.
Di Tengah Dunia yang Semakin
Bising, Akhlak Tetap Menjadi Jawaban
Kita hidup di zaman ketika
informasi bergerak begitu cepat. Satu perkataan dapat menyebar dalam hitungan
detik. Satu kesalahan dapat menjadi konsumsi banyak orang. Perbedaan pendapat
mudah berubah menjadi pertengkaran, sementara ruang digital sering kali membuat
manusia lupa bahwa di balik sebuah akun terdapat seseorang yang juga memiliki
perasaan dan martabat.
Dalam situasi seperti ini,
keteladanan Rasulullah SAW justru semakin relevan.
Beliau mengajarkan kejujuran
ketika kebohongan lebih mudah dilakukan. Mengajarkan kesabaran ketika kemarahan
terasa lebih mudah dilampiaskan. Mengajarkan kasih sayang ketika kekerasan
menjadi pilihan. Dan mengajarkan penghormatan terhadap manusia bahkan ketika
terdapat perbedaan.
Maka, salah satu bentuk
mencintai Rasulullah di zaman sekarang adalah menjaga lisan, tulisan, dan
perilaku kita—baik di dunia nyata maupun di ruang digital.
Sebelum membagikan sesuatu,
kita belajar memeriksa kebenarannya. Sebelum menuliskan komentar, kita belajar
mempertimbangkan dampaknya. Sebelum menghakimi seseorang, kita belajar memahami
keadaannya. Sebab akhlak Rasulullah tidak berhenti relevan hanya karena zaman
telah berubah. Meneladani Rasulullah dalam Memuliakan Anak dan Perempuan
Bagi Lembaga PPAP Seroja,
semangat Maulid Nabi juga menjadi pengingat bahwa anak-anak dan perempuan bukan
sekadar penerima bantuan. Mereka adalah manusia yang memiliki martabat,
potensi, hak untuk tumbuh, serta hak untuk mendapatkan kehidupan yang aman dan
layak.
Rasulullah SAW menunjukkan
perhatian yang besar kepada anak-anak. Beliau tidak memandang mereka sebagai
manusia kecil yang boleh diabaikan, tetapi sebagai pribadi yang layak
dihormati, disayangi, dan didengarkan.
Begitu pula terhadap
perempuan. Islam datang membawa perubahan besar terhadap cara masyarakat
memandang dan memperlakukan perempuan. Rasulullah SAW memberikan teladan
tentang pentingnya memperlakukan perempuan dengan baik dan penuh penghormatan.
Karena itu, menghadirkan
nilai-nilai Maulid dalam kerja sosial berarti menjadikan kasih sayang bukan
sekadar slogan.
Ia berarti memastikan
anak-anak mendapatkan ruang untuk belajar dan berkembang. Ia berarti
menghadirkan lingkungan yang aman bagi perempuan. Ia berarti mendampingi mereka
yang sedang menghadapi persoalan, bukan menambah beban dengan stigma dan
penghakiman.
Dan ia berarti percaya bahwa
setiap manusia memiliki kesempatan untuk bertumbuh dan memperbaiki
kehidupannya.
Dari Maulid Menuju Gerakan
Kebaikan
Peringatan Maulid Nabi akan
menjadi lebih bermakna apabila setelah acara selesai, ada kebaikan yang terus
berjalan. Shalawat yang kita lantunkan semoga melahirkan kelembutan dalam hati.
Kisah Rasulullah yang kita dengarkan semoga melahirkan keberanian untuk berbuat
benar. Kecintaan kepada Rasulullah semoga mendorong kita untuk semakin peduli
kepada sesama.
Sebab pada akhirnya,
masyarakat yang kuat bukan hanya masyarakat yang memiliki banyak orang pintar,
tetapi masyarakat yang tidak membiarkan orang lain berjuang sendirian.
Ada anak yang membutuhkan
seseorang untuk percaya kepadanya. Ada perempuan yang membutuhkan ruang aman
untuk berbicara. Ada keluarga yang membutuhkan dukungan agar dapat kembali
berdiri.
Dan mungkin, di sekitar kita,
ada seseorang yang hanya membutuhkan satu hal sederhana: diperlakukan sebagai
manusia yang berharga. Di sanalah semangat Maulid menemukan maknanya.
Menjadi Umat yang Menghadirkan
Rahmat
Rasulullah SAW telah wafat,
tetapi teladan beliau tidak pernah kehilangan tempat dalam kehidupan umatnya.
Kita tidak dapat mengulang
zaman ketika Rasulullah hidup. Namun kita dapat membawa nilai-nilai yang beliau
ajarkan ke dalam zaman kita sendiri. Kita dapat memulai dari hal-hal sederhana:
lebih jujur dalam bekerja,
lebih lembut dalam berbicara,
lebih sabar dalam menghadapi
perbedaan,
lebih peduli kepada mereka
yang lemah,
lebih berani membela
kebenaran,
dan lebih ringan tangan dalam
menolong sesama.
Barangkali kita tidak mampu
mengubah dunia sekaligus.
Namun kita selalu dapat
membuat satu lingkungan menjadi sedikit lebih aman, satu keluarga menjadi
sedikit lebih kuat, dan satu kehidupan menjadi sedikit lebih baik. Itulah
semangat yang ingin terus dihidupkan oleh Lembaga PPAP Seroja: menjadikan
nilai-nilai Islam hadir dalam kehidupan nyata melalui pendidikan, pendampingan,
kepedulian, dan keberpihakan kepada mereka yang membutuhkan.
Pada akhirnya, mencintai
Rasulullah bukan hanya tentang seberapa sering kita menyebut namanya, tetapi
juga tentang seberapa jauh akhlak beliau hidup dalam diri kita.
Semoga Maulid Nabi Muhammad
SAW 1448 H menjadi momentum bagi kita untuk kembali menumbuhkan cinta kepada
Rasulullah, memperbaiki akhlak, memperkuat kepedulian, serta bersama-sama
menghadirkan lebih banyak rahmat bagi sesama.
Selamat memperingati Maulid
Nabi Muhammad SAW 1448 H.
Semoga shalawat dan salam
senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad SAW, keluarga, para
sahabat, dan seluruh umatnya hingga akhir zaman.
Allahumma shalli 'ala
Sayyidina Muhammad wa 'ala ali Sayyidina Muhammad.

0 Komentar